Gara – Gara si Adas

Dengan semangat kami melangkah dari pondok ketempat makan, mungkin ditambah perut yang juga sudah mulai kosong yang pada akhirnya konser para makhluk kecil dimulai. Sesampai dimeja makan, saya duduk manis menunggu teman-teman yang piket menyelesaikan pekerjaannya, beberapa saat suasana meja makan mulai diisi dengan gelak tawa yang kurang bahagia. Ada apa? Tanyaku pada teman-teman, dan ternyata ada menu baru diatas meja. Kuperhatikan teman-teman ada yang mulai bertanya-tanya ini makanan apa, setelah itu aku melihat ternyata memang bentuknya cukup membuatku untuk menolak makan itu. Namun karena penasaran, aku mengambil sendok dan mencoba mencicipinya. Pertama aku mencicipi kuahnya saja, dan itu cukup membuat lidahku merasakan sesuatu yang begitu berbeda, kata lainnya rasanya sungguh aneh dan membuatku memilih mundur untuk mencicipinya.
            Sebelum makan,saya mencoba mencari teman yang mau mengambil bagianku, namun tak juga kutemukan, akhirnya aku hanya makan nasi dan lauknya saja, sayurnya sedikit ku jauhkan dari dekatku.  Tiba-tiba saja saya teringat dengan perkataan seorang kakak di waktu lalu, “kenapa kamu tidak menghabiskan makanan kamu, bukankah kamu telah mengucap syukur untuk makanan itu?”. Kala itu aku memang tidak menghabiskan makananku saat kami makan bersama. Kata-kata itu cukup membuatku berpikir kembali untuk membuang sayur yang tadi. Dengan terpaksa aku menarik kembali mangkok tempat sayur tadi, sambil membayangkan rasa yang tak karuan, aku memasukkan sayur itu kedalam mulutku dengan berusaha mengunyahnya sambil berharap lidahku tak dapat merasakan apa-apa agar aku bisa segera menelannya. Namun taukah kamu apa yang terjadi? suapan pertama memang cukup sulit untuk menelannya, tapi setelah dimulut, rasanya… sulit dijelaskan, hanya saja aku tetap mengunyah, suapan kedua, ketiga dan selanjutnya, aku mulai menikmatinya hingga pada akhirnya aku menyelesaikan makananku dengan berkata, ternyata sayurnya cukup enak. Lalu aku mengetahui, bahwa sayur itu bernama sayur adas.
            Beberapa hari kemudian, aku memperhatikan seseorang yang belum begitu ku kenal, aku tidak menyukainya, karena sepengelihatanku, auranya cukup tidak nyambung denganku, aku juga tidak suka dengan caranya bersikap, bertingkah laku dan banyaklah (padahal aku belum tau apa-apa tentang dia). Ntah bagaimana ceritanya, aku tanpa sengaja duduk bersama-sama dengan orang tersebut, dan aku mengobrol banyak dengan dia, lalu aku juga mendapat cerita dari seorang teman tentang dia, betapa malunya diriku karena apa yang kupikirkan selama ini hanya hal buruk tentang dia, nyatanya dia begitu hangat, baik, murah hati dan lembut.
            Hal ini mungkin sering terjadi dalam kehidupan yang kita jalani, dengan cepat mengambil suatu keputusan tanpa perlu mencari tahu lebih banyak lagi, begitu cepat mengatakan aku tidak menyukainya karena ini dan karena itu tanpa memberikan kesempatan bagi diri kita dan dia untuk saling mengenal lebih dekat lagi, dan terkadang hal inilah yang membuat penyesalan akan datang, dan kemudian mungkin kita akan berkata “andai saja aku diberi kesempatan kedua”.
            Dari meja makan yang dihidangkan dengan menu sayur adas saya juga dapat belajar untuk tidak langsung mengambil kesimpulan terhadap sesuatu hanya dengan melihat satu atau dua kejadian saja, tapi alangkah perlunya kita tahu atau mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan.
Mari sama-sama memberi diri untuk mengenal dan dikenal 

Komentar