Menikmati setiap proses
Berawal dari sebuah mimpi lalu muncul harapan untuk menyatakannya, berharap dalam iman dan minta dibaharui oleh-Nya setiap hari. Dengan semangat ku mulai merajut mimpi itu, tahap demi tahap sudah dimulai namun terkadang sejuknya semilir angin membuatku terbuai dan melupakan rajutan dan memilih berhenti sejenak dan tinggal dengan nyaman merasakan sejuknya angin. Saat menikmatinya kakiku terhenti oleh kerikil kecil, tersadar bahwa ku sedang berjalan menjauh dari rajutan yang sempat kumulai. Kembali aku mengambil rajutan itu, dan mencoba untuk memulai kembali.
          Beberapa saat aku begitu menikmati saat-saat merajut, beberapa bagian telah selesai, sesaat mataku tertuju kepada jemari kedua tanganku. Kuperhatikan lagi dan akhirnya aku kesal karena tanpa sadar, tanganku mulai berubah menjadi kasar dan itu sangat mengangguku. Segera aku mencampakkan rajutan dengan kesal dan memilih merawat tangan mungilku agar kembali baik seperti sebelumnya. Rajutan itu kutinggalkan dan aku pergi, diperjalanan aku melihat ada banyak hal yang membuatku terbuai. Hiasan-hiasan yang terpajang dengan rapi dan cantik membuatku begitu mengaguminya, mulutku memuji-muji keindahan karya tersebut namun aku  tersadar oleh perkataan “indah bukan? Ya itu memang sebuah keindahan yang begitu berarti, tapi apakah anda tau bagaimana menghasilkannya? Ada banyak cerita yang cukup membuatmu tak ingin mengingatnya, namun ketika melihat hasil ini, itu menjadi kenangan yang tak ingin dilupakan”. Aku segera berbalik dan mncari rajutan yang terhenti. Kucari hingga aku mendapatkannya, kali ini aku sedikit kesulitan menemukannya. Saat menemukannya aku harus mengulang beberapa bagian yang seharusnya sudah selesai, namun karena aku tak mengakhiri dengan baik, rajutannya lepas dan aku harus mengulangnya kembali. Merenungkan perkataan tadi cukup membuatku betah melanjutkan rajutan tersebut, kulit kasar jemari dan telapak tanganku tak lagi menggangguku, aku sudah bisa mengatasinya. Bagian demi bagian mulai terbentuk, aku cukup menikmatinya.
          Disaat yang tak terduga jariku tertusuk jarum, aku masih bisa bertahan, sekali lagi tak apa, namun ntah apa maksudnya berkali-kali tanganku tertusuk bahkan sampai mengeluarkan darah. Aku menjadi begitu kesal, aku tak mau lagi melanjutkannya, terlalu sering dan terlalu sakit bagiku. Sudah lama aku merajut namun tak bisa juga kumelihat bentuknya. Aku marah, kesal dan kembali kubuang jauh-jauh rajutan tadi, kini tak ada yang tersisah ditanganku kecuali bekas luka tusukan jarum yang beberapa kali membuatku sakit. Aku biarkan semuanya dan aku berhenti merajut.
          Disaat berhenti, sementara waktu aku bisa menikmati hari-hariku, namun rasanya aku tidak pernah puas. Telah kucoba merajut yang baru, namun sama saja semua berhenti ditengah jalan. Aku berhenti sejenak dan mencoba membuka lembaran-lembaran yang mulai usang, aku berhenti pada satu halaman, disana aku menemukan seutas benang dan itu membawaku pada rajutan yang kubuang tadi, kumulai mencari-mencari namun tak kutemukan. Aku hanya punya pilihan yaitu mengulangnya dari awal.
          Dengan sekuat tenaga dan sebulat tekad, kumulai lagi dari awal, kulit kasar dan bahkan berkali-kali tertusuk jarum tak lagi jadi masalah yang membuatku mundur. Akan seperti apa bentuknya aku tidak peduli lagi, kini aku hanya peduli bagaimana aku bisa bertahan dalam setiap proses, menikmati setiap proses baik itu manis atau pahit sekalipun, karena sekarang aku sadar, setiap hal yang boleh terjadi ketika aku merajut mimpiku adalah proses yang akan membuatku semakin kuat, kokoh dan tahan uji untuk setiap hal. Dan juga aku mengerti bahwa Dia juga merencanakan hal baik bagiku, asal aku setia sampai akhir maka akan kutemukan bentuk indah yang lebih besar dari bayangan pikiranku yang terbatas. Segala hal boleh terjadi namun yakinlah engkau dalam penyertaanNya senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Komentar